Onion Club - Onion Head - Onion-kun Catatan Kuliah Sang Adenz: Tugas MK Penerapan Sistem Pertanian Berkelanjutan - Perbedaan Sistem Pertanian Tradisional, Konvensional, dan Berkelanjutan

Sabtu, 05 Januari 2013

Tugas MK Penerapan Sistem Pertanian Berkelanjutan - Perbedaan Sistem Pertanian Tradisional, Konvensional, dan Berkelanjutan

Saat ini sistem pertanian yang telah dikenal terbagi menjadi 3 sistem, yaitu sistem pertanian tradisional, konvensional atau modern dan sistem pertanian berkelanjutan. Setiap sistem pertanian tersebut memiliki tujuan yang sama yaitu untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, tetapi masing-masing sistem memiliki perbedaan. Pada sistem pertanian tradisional, peralatan dan sistem pengolahnnya masih tergolong rendah dan belum berkembang. Pertanian tradisional ditujukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup petani dan tidak untuk memenuhi kebutuhan ekonomi petani. Namun, kelebihan pertanian tradisional ini adalah sangat ramah lingkugan karena tidak menggunakan bahan kimia dalam memupuk ataupun mengendalikan hama.

Sementara pada pertanian konvesional bertujuan untuk meningkatkan hasil produksi demi mendapatkan keuntungan ekonomi. Selain itu pada pertanian modern cenderung menggunakan bahan kimia dalam pemupukan dan pengendalian hama. Sehingga menimbulkan banyak kerusakan lingkungan dan sampai menyebabkan terjadinya ledakan hama. Seperti pernyataan Yusdja et at yang dikutip oleh Saptana dan Hastari dalam Jurnal Litbang Pertanian, 26(4), 2007 ; Pembangunan pertanian yang bias untuk memacu produksi khususnya padi telah berdampak negatif terhadap sumber daya alam dan lingkungan. Di beberapa daerah di Jawa, petani menggunakan pupuk secara berlebihan, seperti urea, TSP, dan SP-36, sehingga menimbulkan residu zat kimia di dalam tanah dan air.

Demikian pula penggunaan pestisida yang berlebih pada beberapa komoditas pangan telah menimbulkan resistensi dan resurjensi berbagai hama dan penyakit. Implikasinya adalah timbulnya serangan hama dan penyakit secara eks-plosif, seperti serangan wereng coklat dan tikus pada tanaman padi, ulat grayak pada kedelai, serta berbagai hama dan penyakit pada komoditas hortikultura. Contoh lain-nya adalah pembukaan lahan gambut 1 juta ha di Kalimantan Tengah yang telah menimbulkan dampak menurunnya keanekaragaman hayati. Dan pertanian berkelanjutan merupakan pemanfaatan sumber daya yang dapat diperbaharui dan sumberdaya tidak dapat diperbaharui untuk proses produksi pertanian dengan menekan dampak negatif terhadap lingkungan seminimal mungkin. Keberlanjutan yang dimaksud meliputi : penggunaan sumberdaya, kualitas dan kuantitas produksi, serta lingkungannya. Proses produksi pertanian yang berkelanjutan akan lebih mengarah pada penggunaan produk hayati yang ramah terhadap lingkungan. Oleh karena itu, pertanian berkelanjutan adalah suatu sistem pertanian yang memproduksi bahan pangan dan serat yang secara sistematis dan terarah menuju tujuan-tujuan berikut :

• Secara lebih komprehensif memasukkan proses-proses alamiah, seperti siklus unsur hara, fiksasi nitrogen, dan hubungan tirnbal balik antara predator dan mangsa, ke dalarn proses-proses produksi pertanian.

• Pengurangan penggunaan berbagai input yang berasal dari luar (off-farm) dan yang tak dapat pulih (non-renewable) yang dapat merusak lingkungan, membahayakan kesehatan para petani dan konsumen, dan lebih rnengutamakan penggunaan input yang tersisa dari penggunaan sebelumnya (reuse dan recycling) guna meminimalkan biaya variable (varaible costs) dari sistem agribisnis. • Penggunaan secara lebih produktif dari sumberdaya hayati dan genetic dari berbagai spesies hewan dan tumbuhan (Dahuri, 1998).


Daftar Pustaka

Dahuri Rokhmin. Pembangungan Pertanian Berkelanjutan Dalam Perspektif Ekonomi, Sosial, dan Ekologi. Agromedia Volume 4 No. 1. 1998.

Yusdja et al dalam Saptani dan Hastari. Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Melalui Kemitraan Usaha. Jurnal Litbang Pertanian 26 (4), 2007.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog ini.